09 Desember 2025
Lokakarya sosialisasi dan konsultasi program bersama
Pemerintah Desa dan Kabupaten Gunungkidul (©ASB Indonesia 2016)
Dampak bencana tidak berhenti pada jatuhnya korban jiwa atau pun korban luka. Lebih luas, bencana dapat menghancurkan hasil-hasil pembangunan yang telah dirintis sejak lama dan mengancam kesejahteraan hidup masyarakat. Karenanya, upaya membangun ketangguhan tidak dapat diukur melalui praktik-praktik kesiapsiagaan bencana semata. Pilar-pilar ketangguhan harus dibangun di semua sendi, mensyaratkan kerja sama dari beragam pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan semua unsur masyarakat, tidak terkecuali kelompok-kelompok paling berisiko.
Melalui program “Membangun ketangguhan di
Indonesia: Mengintegrasikan inklusi dan manajemen risiko dalam pembangunan
perdesaan,” ASB mendukung upaya pemerintah untuk mengoptimalkan pengelolaan
sekaligus menjaga sumber daya dan hasil pembangunan di 2 wilayah provinsi, yaitu
Jawa Barat dan DI. Yogyakarta. Diimplementasikan sejak November 2016 hingga berakhir
pada Oktober 2019 lalu, program ini melibatkan 2 desa di wilayah Kabupaten
Ciamis, Jawa Barat, dan 2 desa di Kabupaten Gunungkidul, DI. Yogyakarta. Dalam
pelaksanaannya, ASB bermitra dengan Paluma Nusantara, sebuah organisasi lokal
yang telah memiliki pengalaman dan keahlian untuk mendampingi kelompok-kelompok
perempuan dalam mengembangkan usaha mikro, agribisnis, dan pelestarian
lingkungan.
Beragam ancaman bencana berisiko mengganggu
proses pembangunan di 4 desa yang menjadi wilayah kerja program ini. Kekeringan
dan tanah longsor terjadi hampir setiap tahun di wilayah Desa Katongan dan
Rejosari di Gunungkidul. Sedangkan Desa Bangunsari dan Sidamulih di Ciamis
sering berhadapan dengan banjir yang mengancam tempat tinggal serta hasil
pertanian warga. Di bawah
kerangka program kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
(Kemendagri) dan melalui kemitraan bersama Paluma
Nusantara serta Pemerintah Daerah,
ASB berupaya untuk memfasilitasi pemerintah desa dalam membangun ketangguhan sosial-ekonomi yang inklusif dan partisipatif.
Semua desa yang menjadi wilayah kerja
program kini telah memiliki Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang
berfungsi untuk menggerakkan kegiatan pengurangan risiko bencana dengan
dukungan alokasi dana desa. Forum ini juga yang telah memfasilitasi negosiasi
dan koordinasi dalam proses relokasi 14 rumah tangga yang tinggal di wilayah
rawan longsor ke area yang lebih aman. Kegiatan pengurangan risiko bencana juga
menjangkau 50 sekolah yang berada di wilayah administratif desa. 34 diantaranya
kini telah memiliki Tim Kesiapsiagaan Bencana serta rencana penanggulangan
bencana yang dilengkapi dengan mekanisme peringatan dini yang inklusif.
Pembentukan Forum Disabilitas Tangguh Bencana di
Kabupaten Gunungkidul (©Paluma
Nusantara 2019)
Integrasi upaya pengurangan risiko bencana
ke dalam pengelolaan ekonomi masyarakat desa juga dilakukan melalui
pengembangan rencana dan strategi bisnis yang sadar-risiko. Pendampingan dan
proses peningkatan kapasitas Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang dilakukan
tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi dan penghasilan, melainkan
juga pada mekanisme untuk mengantisipasi ancaman bencana yang dihadapi. Setiap
BUMDES juga didorong untuk mengupayakan proses pengelolaan sumber daya alam
yang lebih ramah lingkungan. Selain melalui pengembangan pertanian dan
peternakan organik, BUMDES juga diajak untuk menggali potensi diversifkasi
hasil produksi guna mengoptimalkan hasil sumber daya alam unggulan, serta
mengolah limbah produksi menjadi produk layak jual.
Inklusi menjadi nafas dalam setiap
pelaksanaan kegiatan dalam program kemitraan ini. Pelibatan kelompok paling
berisiko, khususnya penyandang disabilitas, menjadi kunci capaian utama program.
Penyandang disabilitas yang sebelumnya seringkali ‘terlupakan’ dalam beragam
kegiatan pembangunan desa kini telah memiliki ruang tumbuh dengan terbentuknya
Forum Penyandang Disabilitas di masing-masing desa. Forum ini telah menciptakan
peluang bagi penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam perencanaan
pembangunan desa, upaya pengurangan risiko bencana, serta pengembangan ekonomi.
Setiap desa kini juga telah memiliki mekanisme pengalokasian dana untuk
memfasilitasi kegiatan rutin Forum Penyandang Disabilitas. Di Gunungkidul,
Forum Penyandang Disabilitas Desa Rejosari dan Katongan terlibat aktif dalam
inisiasi Forum Disabilitas Tangguh Bencana (FDTB) tingkat kabupaten. Selain
itu, penyandang disabilitas juga ambil bagian dalam pengembangan unit-unit
usaha di BUMDES, membukakan peluang bagi peningkatan kesejahteraan dan
ketangguhan ekonomi.
Integrasi inklusi dan manajemen risiko ke
dalam pengembangan sosial-ekonomi perdesaan merupakan kunci dalam memastikan
pembangunan yang berkelanjutan. Tanpa pertimbangan manajemen risiko,
hasil-hasil pembangunan dapat hancur dalam sekejap karena bencana. Dan tanpa
inklusi, pembangunan tidak akan berjalan dengan efektif dan hasil-hasilnya
tidak dapat dirasakan oleh semua unsur masyarakat. Pelaksanaan program ini menjadi
pembuktian bahwa keterlibatan dan komitmen semua pihak dapat terbangun dengan
harmonis dan berbuah manis. Dalam lokakarya diseminasi hasil pembelajaran, 10
desa yang bertetangga dengan 4 desa wilayah kerja menyatakan komitmennya untuk
mereplikasi pendekatan serupa dalam pengembangan BUMDES di desa masing-masing.